Kisah PKL di Sukabumi, Mohan Bertahan Hidup Ditengah Himpitan Ekonomi, Namun Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

IMG_20260527_165525

Seorang pedagang keliling Pak Mohan, bertahan hidup dengan jajakan dagangan di jln alternatif Nagrak -Cibadak Sukabumi (Dok: IdeNews.id)

Penulis: Rudi Tanjung Kabiro Sukabumi 

SUKABUMI|IdeNews.id - Terik matahari siang itu tak membuat langkahnya berhenti. Di pinggir Jalan Alternatif Nagrak- Cibadak, seorang bapak berumur 60 tahun, di paksa waktu untuk terus berjuang menjajakan dagangannya yang tersusun rapi di atas karung berwarna putih, Mohan, itulah namanya yang dikenal oleh sebagian rekan pedagang, Rabu (27/05/2026).

Bagi warga yang sering melintas, sosok Pak Mohon sudah tak asing. Tapi di balik senyum dan sapaan ramahnya, ada cerita panjang tentang bagaimana harus bertahan hidup di usia senja.

"Saya sudah mulai berdagang di Sukabumi kurang lebih dari 25 tahun. Waktu dulu usaha relatif lebih stabil, namun seiring waktu hingga saat ini, untuk makan sehari-hari saya sudah kesulitan," ungkap bapak satu anak ini.

Bertahan di Tengah Keterpurukan Ekonomi

Pak Mohan yang sudah bertahun-tahun menjadi pedagang keliling. Ia berdagang apa saja yang bisa laku untuk dijual, demi satu tujuan sederhana, bisa makan kenyang hari ini dan besok.

“Di tengah ekonomi yang susah begini, saya nggak bisa berhenti. Kalau berhenti, nggak makan,” ujarnya lirih.

Di usianya yang seharusnya bisa beristirahat, ia justru masih berkeliling dari pagi hingga sore bahkan hingga malam. Kaki yang mulai letih dan badan yang tak sekuat dulu tak membuatnya menyerah dalam mengarungi kehidupan yang pahit ini.

Hidup Numpang Sejak Bercerai 7 Tahun Lalu.

Ia juga menceritakan, bagaimana kondisi ekonomi menjadi beban berat dalam hidupnya, hingga harus rela melepaskan ikatan pernikahan yang sudah berusia 15 tahun. Dampak perceraian ini, yang membuat perjuangan Pak Mohan semakin berat, ia tidak punya rumah sendiri. Sejak bercerai dengan istrinya 7 tahun lalu, ia terpaksa hidup numpang di tempat rekan sesama pedagang.

“Alhamdulillah masih ada teman yang mau menampung. Kalau ngontrak, saya nggak sanggup,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, selama ini, belum pernah tersentuh bantuan dari pemerintah. Mungkin karena, namanya belum masuk dalam data penerima bantuan sosial, meski kondisi ekonominya memang jauh dari kata layak.

Satu Harapan Sederhana di Usia Senja

Ketika ditanya apa yang paling ia harapkan untuk saat ini ?, Pak Mohan tak meminta banyak. 

Ia hanya berharap bisa mendapat bantuan modal usaha agar dagangannya bisa lebih berkembang.

Selain itu, Ia juga berharap ada jaminan kesehatan untuk berjaga-jaga disaat sakit datang. Dan yang paling ia impikan, memiliki rumah yang layak, meski hanya satu petak kecil untuk berteduh dari panas dan dinginnya angin malam.

“Saya sudah tua. Nggak minta muluk-muluk. Cuma ingin hidup tenang di akhir usia, punya tempat pulang yang bener,” tuturnya.

Cerita Pak Mohan adalah potret banyak lansia di luar sana yang masih harus berjuang di tengah keterbatasan. Di saat banyak orang sudah menikmati masa pensiun, ia masih harus bertaruh membanting tulang dengan waktu dan tenaga di jalanan yang penuh sesak.

Kisah seperti ini sering luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat luas, bagaimana hidup harus terus berjuang hingga akhir hayat di kandung badan.

X CLOSE ADS