C’Kopi Gaud Jadi Ruang Diskusi, Empat Tokoh Sukabumi Bahas Strategi Hadapi Guncangan Ekonomi Global

IMG_20260513_223815_copy_619x347

Empat tokoh lokal berkumpul pada Rabu (13/05/2026) untuk membahas cara memperkuat ekonomi daerah di tengah gejolak geopolitik global yang mulai terasa hingga ke pelosok (Dok: Istimewa)

Rudi Tanjung Kabiro Sukabumi 

SUKABUMI|IdeNews.id – Sore di C’Kopi Gaud, Sukabumi, kembali dipenuhi aroma kopi dan diskusi tajam. Empat tokoh lokal berkumpul pada Rabu (13/05/2026) untuk membahas cara memperkuat ekonomi daerah di tengah gejolak geopolitik global yang mulai terasa hingga ke pelosok.

Pertemuan informal itu mempertemukan Kang Aves, tokoh pers sekaligus entrepreneur kopi; Aam Abdul Salam, Penasihat SMSI dan PWI Kabupaten Sukabumi; Dede Heri, Sekjen Rumah Literasi Merah Putih; dan Siti Ratna Maymunah, CEO Wartain.com.

Perkuat Ekonomi Lokal Jadi Kunci


Kang Aves membuka diskusi dengan menegaskan bahwa sektor domestik adalah penopang utama saat rantai pasok dunia terguncang. 

“Kita tidak bisa menghentikan perang di luar sana, tapi kita bisa memperkuat benteng di rumah sendiri,” ujarnya.

Senada, Aam Abdul Salam menyoroti pentingnya ketahanan informasi bagi pelaku UMKM. Menurutnya, adaptasi pasar dan penguatan akar rumput menjadi strategi agar usaha kecil tidak tumbang ketika krisis datang.

Pariwisata Dinilai Jadi Lokomotif


Diskusi mengarah pada potensi alam dan budaya Sukabumi sebagai motor penggerak ekonomi. Pariwisata dinilai bisa menjadi lokomotif yang menarik gerbong UMKM di belakangnya.

Efeknya disebut berlapis: wisatawan yang datang tidak hanya membeli pemandangan, tapi juga menggerakkan kuliner, kerajinan, hingga jasa lokal. Dampaknya langsung terasa pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang kemudian bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

Kolaborasi Pentahelix dan Peran Media Digital


Siti Ratna Maymunah menekankan peran media sebagai jembatan yang memperkenalkan Sukabumi ke publik yang lebih luas. Narasi digital, katanya, harus dimaksimalkan untuk mengangkat potensi daerah dan produk kreatif lokal.

Sementara itu, Dede Heri mendorong kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah daerah, masyarakat, komunitas, pelaku usaha, dan media. Sinergi ini dianggap penting agar upaya penguatan ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri.

C’Kopi Gaud Sebagai Kawah Regenerasi

 
Di luar agenda diskusi, C’Kopi Gaud juga disebut sebagai ruang pembinaan anak muda. Kang Aves secara aktif membina perintis usaha kopi muda melalui literasi dan pelatihan kewirausahaan.

“Di tangan anak-anak muda inilah masa depan ekonomi kreatif Sukabumi digantungkan,” tegasnya.

Diskusi yang berlangsung hingga matahari terbenam itu meninggalkan satu kesimpulan: modal besar Sukabumi ada pada alam, kopi, dan semangat warganya yang menolak menyerah pada krisis global.

X CLOSE ADS