Marimpa Salo dan Mappogau Sihanua - Kekayaan Budaya Sinjai yang Masih "Tersembunyi" dari Wisatawan Asing
- IdeNews | Alan Vurgani -
- Selasa, 27 Oktober 2026
Poto (Alan/Fir/dok.ideNews)
SINJAI-SULSEL | ideNew.id — Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menyimpan dua warisan budaya luar biasa indah. Ma'rimpa Salo, tradisi syukur nelayan dan petani di tepian sungai, serta Mappogau Sihanua, pesta adat terbesar masyarakat Karampuang yang sarat nilai spiritual. Keduanya unik, otentik, dan penuh kearifan lokal dua permata budaya Sinjai ini yang belum dikenal Dimata dunia,sehingga kini, jumlah wisatawan asing yang berkunjung masih sangat minim. Mengapa ??
Ma'rimpa Salo artinya "menghalau sungai" — warga dua desa (Bua dan Sanjai) beramai-ramai menghalau ikan dari hulu ke muara, lalu menangkapnya bersama untuk dimakan bersama pula, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan tangkapan laut . Sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak beberapa tahun lalu,dan
Mappogau Sihanua adalah pesta adat masyarakat Karampuang, dilaksanakan setiap Oktober–November sebagai wujud syukur atas panen, sekaligus mempererat ikat persaudaraan dan menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Tapi sampai saat ini, Mengapa dua tradisi ini Belum Dilirik Wisatawan Asing?
Mungkin alasan mendasar sehingga belum dilirik wisatawan asing, diantaranya adalah
Promosi dan Informasi Masih Sangat Terbatas sehingga keterbatasan dalam mengekspos kegiatan ini sangat terbatas
Dan salah satu faktor juga sehingga tradisi ini hampir belum dikenal di kancah internasional. Informasi dalam bahasa asing sangat minim, belum ada kerja sama dengan agen perjalanan internasional, dan kehadirannya di platform wisata global masih nyaris tidak terlihat. Promosi lebih banyak bersifat dari mulut ke mulut dan jangkauannya hanya ke wisatawan domestik.
Lokasi pelaksanaan berada di desa-desa dan kawasan pedalaman. Akses jalan, rute transportasi umum, serta petunjuk arah belum memadai. Bagi wisatawan asing yang tidak menyewa kendaraan pribadi, menjangkaunya cukup sulit,serta
Minimnya Fasilitas Penunjang.
Penginapan, tempat istirahat, toilet umum, dan layanan informasi wisata belum tersedia memadai di lokasi. Wisatawan asing yang biasanya membutuhkan kenyamanan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi,serta
Waktu Pelaksanaan Terbatas dan Belum Terstandar Internasional.
Kegiatan ini bersifat tahunan dan berlangsung dalam waktu singkat. Informasi jadwal sering terlambat dipublikasikan, sehingga wisatawan asing yang merencanakan perjalanan jauh sebelumnya sulit menyesuaikan waktu kunjungan mereka.
Dan juga Belum Adanya Paket Wisata Terintegrasi,
Belum ada paket kunjungan yang menggabungkan kedua tradisi ini dengan destinasi lain di Sulawesi Selatan. Wisatawan asing cenderung memilih destinasi yang sudah terjalin dalam satu rute perjalanan yang nyaman.
Senada dengan acara yang satu ini yaitu,
Mappogau Sihanua adalah upacara adat yang sakral masyarakat setempat memang tidak sembarangan menerima tamu, dan pengunjung harus menghormati aturan adat yang berlaku. Ini bukan sekadar "pertunjukan wisata", sehingga perlu pendekatan khusus yang bijak.
Tetapi dibandingkan dengan aturan serta adat istiadat masyarakat ammatoa di Bulukumba yang sering dibanjiri wisatawan asing.
Kami mengharapkan kedepannya
Pemerintah Kabupaten Sinjai telah berupaya mendorong Ma'rimpa Salo masuk dalam kalender wisata provinsi bahkan internasional. Namun dukungan promosi global, peningkatan akses jalan, penyediaan fasilitas ramah wisatawan, serta kemitraan dengan pelaku pariwisata internasional sangat dibutuhkan agar dua permata budaya ini tak hanya dimiliki Sinjai, tetapi juga dikenal dan dikunjungi dunia.
"Bukan berarti budaya ini tidak menarik
ia hanya belum terlihat. Saat dunia tahu, mereka pasti akan datang."
