Numpang di Tanah Pemerintah dan Bertetangga dengan Kandang Domba, Ini Kisah Abah Jumha di Sukabumi

IMG_20260826_154851

Kondisi rumah Abah Jumha. Bu Ciah terlihat memasak masih mengunakan tungku kayu bakar dan Ajad tulang punggung keluarga yang tertimpa musibah (Dok: IdeNews.id)

Rudi Tanjung Kabiro Sukabumi 

SUKABUMI|IdeNews.id  - Di sebuah rumah kecil berukuran 3x4 meter yang nyaris ambruk di Kampung Cirendeu Lebak, RT 05/08 Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Abah Jumha, 80 tahun, bertahan hidup bersama istri Bu Ciah dan dua anaknya, Ajad 48 tahun dan Ruslan 34 tahun.

Rumah yang mereka tempati berdiri di tanah milik pemerintah daerah dan tepat bersebelahan dengan kandang domba. Aroma tak sedap setiap hari menjadi "sahabat" keluarga ini. Namun keterbatasan lahan membuat mereka tak punya pilihan lain.

"Kami sudah tinggal di sini puluhan tahun. Mau pindah ke mana, ini juga numpang," ujar Abah Jumha saat ditemui di rumahnya, Selasa 26/8/2026.

Musibah Menimpa Tulang Punggung Keluarga

Ujian semakin berat saat Ajad, anak tertua yang menjadi tulang punggung keluarga, mengalami kecelakaan. Saat mencari bambu untuk memperbaiki kandang, mata sebelah kirinya tertusuk bilah bambu. Akibatnya ia harus menjalani operasi dan kini tak bisa bekerja.

"Ajad yang biasa kerja serabutan sama adiknya. Dia juga yang cari rumput buat pakan domba, itu satu-satunya harta kami," kata Abah Jumha dengan mata berkaca-kaca.

Kini semua beban ekonomi jatuh ke pundak Ruslan. Setiap hari ia bergantian bekerja serabutan dan mencari rumput untuk 3 ekor domba milik keluarga.

"Sejak saya sakit, semua jadi adik yang ngerjain. Cari rumput juga dia sekarang," ucap Ajad lirih.

Meski hidup pas-pasan, keluarga ini tetap bertahan. Dapur dari tungku kayu bakar tetap harus mengepul setiap hari.

Abah Jumha hanya berharap anaknya segera sembuh agar bisa kembali membantu memperbaiki rumah yang atap dan dindingnya sudah lapuk dimakan usia.

"Mudah-mudahan Ajad cepat sembuh. Dia tumpuan kami di rumah ini," harapnya.

Pemdes Berjuang Ajukan Bantuan

Secara terpisah, Kepala Desa Darmareja H. Cecep membenarkan kondisi keluarga tersebut sangat memprihatinkan. Status tanah yang masih milik Pemda menjadi kendala utama untuk mengajukan bantuan bedah rumah atau Rutilahu.

"Kami ikut prihatin. Saat ini pemdes sedang berjuang agar tanah yang ditempati Abah Jumha bisa disertifikatkan atas nama beliau. Kalau sudah milik pribadi, baru bisa kami ajukan Rutilahu," jelas Kades.

Sambil menunggu kepastian status tanah, pihak desa mengajak warga untuk bergotong-royong memperbaiki rumah secara swadaya.

"Kami juga berharap ada uluran tangan dari pemerintah daerah dan para donatur yang mau membantu keluarga Abah Jumha," pungkasnya.

X CLOSE ADS